Waspada 4 Jenis Ruam Kulit Pertanda Penyakit Serius

Kalengdrum – Kulit adalah organ manusia yang paling besar. Kulit juga menyumbang sekitar 15% dari berat badan seseorang. Pembalut tubuh ini memainkan peran penting dalam menyesuaikan suhu tubuh, mendeteksi panas dan dingin serta melindungi individu dari infeksi dan penyakit luar.

Ketika tubuh sedang terserang virus, kulit adalah organ yang pertama kali merespons dan akan dilanjutkan ke sel-sel saraf di bawahnya. Tidak terkecuali saat muncul ruam kulit. Ruam dikatakan bisa sebagai peradangan dan juga perubahan warna yang terjadi pada kulit. bentuk reaksi kulit yang mengalami ruam misalnya timbulnya gatal-gatal, benjol, mengelupas, berisik atau iritasi.

Ruam kulit tidak hanya terjadi pada bayi, namun juga orang dewasa. Biasanya, sakit ini disebabkan oleh alergi, efek samping penggunaan obat atau kosmetik dan berbagai macam penyakit yang dapat melanda tubuh.

Lalu, jenis ruam kulit apa saja yang perlu diwaspadai. Jika muncul tiba-tiba pada tubuh? Dikutip dari Bright Side, Minggu (9/12/2018), berikut 4 diantaranya:

Waspada 4 Jenis Ruam Kulit Pertanda Penyakit Serius

  • Penyakit Lyme

Waspada 6 Jenis Ruam Kulit Pertanda Penyakit Serius

Lyme borreliosis adalah penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Borrelia burgdorferi yang dihantarkan melalui kutu kaki hitam (Ixodes Scapularis). Kutu tersebut umumny menghisap darah burung, hewan peliharaan, hewan liar dan juga manusia.

Gejala-gejala yang timbul seperti sakit kepala hebat, kelelahan, demam dan ruam kulit seperti pada foto di atas. Jika tidak diobati, infeksinya dapat mempengaruhi sistem saraf, jantung dan juga persendian.

  • Ruam Alergi

Tujuan utama dari sistem kekebalan manusia adalah untuk melindungi tubuh dari virus dan juga bakteri. Namun terkadang-kadang, sistem imun tubuh juga bisa melawan zat-zat yang justru tidak berbahaya bagi kesehatan. Inilah awal mula munculnya reaksi alergi.

Gejala yang terlihat, yang paling jelas adalah ruam. Kulit menjadi merah dan gatal, bengkak atau kering. Semua itu tergantung pada reaksi sistem kekebalan tubuh.

  • Cacar Ular

Herpes zoster atau shingles atau cacar ular adalah sejenis penyakit yang disebabkan oleh virus varicella-zoster. Setelah seseorang menderita cacar air, virus varicella-zoster ini akan menetap dalam kondisi dorman (tidak aktif)  pada satu atau lebih ganglia (pusat saraf) posterior.

Apabila seseorang mengalami penurunan imunitas seluler, maka virus tersebut dapat aktif kembali dan kemnyebar melalui saraf tepi ke kulit, sehingga menimbulkan penyakit herpes zoster.

Di kulit, virus akan memperbanyak diri (multiplikasi) dan membentuk bintil-bintil kecil berwarna merah, berisi cairan dan menggembung pada daerah sekitar kulit yang dilalui virus tersebut.

Baca Juga: Terungkap, Penyebab Kepunahan Hewan Laut Terbesar di Bumi

Herper zoster cenderung menyerang orang lanjut usia dan penderita penyakit imunosupresif (sistem imun lemah) seperti AIDS, leukimia, lupus dan limfoma.

Herpes zoster ditularkan antarmanusia melalui kontak langsung. Salah satunya adalah transmisi melalui pernafasan sehingga virus tersebut dapat menjadi epidemik diantara inang yang rentan.

Pada awal terinfeksi virus tersebut, pasien akan menderita rasa sakit seperti terbakar dan kulit menjadi sensitif selama beberapa hari hingga satu minggu.

  • Biduran

Urtikaria atau biduran adalah kondisi kelainan kulit berupa reaksi vaskular terhadap bermacam-macam sebab. Biasanya dikarenakan oleh suatu reaksi alergi. Ciri-cirinya yakni kulit kemerahan dengan sedikit oedem atau penonjolan kulit (berbatas jelas) yang timbul secara cepat.

Meskipun pada umumnya penyebab biduran diketahui karena reaksi alergi terhadap alergen tertentu, tetapi pada kondisi lain, dimana tidak diketahui penyebabnya secara signifikan. Maka dikenal dengan istilah urtikaria idiopatik. Biduran dapat bersifat akut (berlangsung kurang dari 6 minggu) atau kronis (lebih dari 6 minggu).

Sejumlah faktor, baik imunologi dan nonimunologik, dapat menjadi hal yang memunculkan biduran. Sementara itu, biduran dihasilkan dari pelepasan histamin dari jaringna sel mast dan dari sirkulasi basofil.

Faktor-faktor nonimunologik yang dapat melepaskan histamin dari sel tersebut meliputi bahan-bahan kimia, obat-obatan tertentu (termasuk morfin dan kodein), makan makanan laut (lobster, kerang, udang), toksin bakteri, hingga kontak fisik.

 

 

Author: adminong

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *