Penemuan Sains Paling Menarik Sepanjang Februari 2019

KalengdrumSejumlah penemuan terus dipublikasikan dalam berbagai jurnal ilmiah. Para periset, selain mengembangkan beragam metode sains. Mereka juga mencari tahu mengenai objek-objek yang menurut mereka masih menjadi misteri ilmu pengetahuan.

Salah satu situs sains yang paling berpengaruh, Live Science. Terus mengulas banyak riset tentang hasil penelitian dan temuan yang memang diakui oleh dunia.

Berikut ini penemuan sains yang dinilai paling menarik sepanjang tahun 2019 versi Live Science yang dikutip pada Kamis (28/2/2019).

  • Bumi Menyembunyikan Jajaran Gunung di Mantel Terdalamnya

3 Penemuan Sains Paling Menarik Sepanjang Februari 2019

Bumi menyembunyikan beberapa jajaran pegunungan di mantelnya. Planet biru ini terdiri dari tiga lapisan dasar, yakni kerak yang dihuni 7,7 miliar manusia dan hampir 9 juta spesies lain. Mantel yang sebagian besar berupa batuan padat adn merupakan 84 persen dari volume Bumi, dan mendorong terbentuknya gunung berapi dan gempa, serta inti yang menstabilkan medan magnet di seluruh dunia.

Tetapi diantara lapisan-lapisan ini, ternyata ada anatomi yang lebih detail. Wilayah yang membagi mantel menjadi lapisan atas dan bawah disebut zona transisi. Dengan bagian terdalamnya memiliki area perbatasan sejauh 660 kilometer.

Sekarang, ahli geologi telah menemukan bahwa batas ini menyembunyikan banyak pegunungan. Menurut para peneliti yang melaporkan temuannya dalam sebuah studi baru yang diterbitkan pada 14 Februari dalam jurnal Science.

Pegunungan ini lebih terjal, dengan perbedaan ketinggian yang besar daripada pegunungan yang biasa dilihat di permukaan. Seperti pegunungan Rocky dan pegunungan Appalachian di Amerika Utara, menurut pernyataan Princeton University.

Agar para ilmuwan bisa mendeteksi jajaran pegunungan ini, yang terpendam sekitar 410 mil dibawah permukaan Bumi, Bumi harus “diguncang” terlebih dulu.

Dalam kolaborasi internasional antar Princeton University dan Institute of Geodesy dan Geophysics di China. Para ahli menganalisis data dari gempa berkekuatan 8,2 magnitudo yang mengguncang Bolivia pada tahun 1994.

Lindu kuat tersebut dapat mengirimkan gelombang kejut melalui bagian dalam Bumi, kadang-kadang melalui inti, merambat ke sisi lain dan kembali lagi. Seismolog dapat memantau intensitas gelombang kejut ini di berbagai titik di permukaan planet, saat guncangan memantul ke segala arah. Gelombang seismik akan berubah tergantung pada objek yang dikenainya.

Seismolog dapat mendeteksi berapa banyak gelombang itu tersebar di permukaan dan menggunakan data yang diperoleh untuk mencari tahu apa yang ada di bawah permukaan Bumi.

Dalam studi baru, para peneliti menciptakan simulasi seperti apa bagian atas zona transisi dan bagian bawah (batas 660 km) di mantel Bumi.

Meskipun mereka menemukan adanya kekasaran di perbatasan, namun mereka belum mampu menjelaskan apakah pegunungan itu berukuran lebih tinggi daripada yang ada di permukaan Bumi.

Mirip dengan apa yang ditemukan di permukaan, topografi pada daerah batas tersebut sedikit berbeda. Selain itu, di bagian paling atas zona ini, sekitar 410 kilometer ke bawah (255 mil), mereka menemukan sedikit kekasaran.

Dengan adanya temuan tersebut, para ilmuwan dapat memahami bagaimana planet ini terbentuk dan bagaimana fungsinya sekarang. Meski demikian, belum dijelaskan apakah mantel bagian atas dan bawah sudah menyatu atau tetap berdiri masing-masing dengan susunan kimianya sendiri.

Selama bertahun-tahun, ahli geologi masih memperdebatkan tentang zona transisi ini yang konon menjaga mantel atas dan bawah dari penggabungan. Tetapi topografi yang baru ditemukan itu mampu menghasilkan wawasan apakah keduanya berbaur atau tidak.

Area yang lebih halus di perbatasan bisa dihasilkan dari pencampuran dua lapisan. Sementara area yang lebih kasar bisa muncul karena mereka tidak dapat menyatu dengan sangat baik di tempat-tempat itu. Menciptakan endapan, kata para peneliti.

Endapan itu sendiri dapat berasal dari batu yang bermigrasi jauh dari kerak ke mantal. Kini berada di dekat batas 660 km, mungkin justru berada tepat di bawah atau tepat di atasnya.

“Sangatlah mudah untuk mengasumsikan, mengingat kita hanya dapat mendeteksi gelombang seismik yang berjalan melalui Bumi dalam kondisi saat ini. Bahwa seismolog tidak dapat membantu membedakan bagaimana interior Bumi yang telah berubah-ubah selama 4,5 miliar tahun terakhir,” ujar rekan penulis studi Jessica Irving, seorang ahli geofisika di Princeton University.

“Apa yang menarik tentang hasil ini adalah bahwa aktivias Bumi ini memberi kami informasi baru untuk memahami nasib lempeng tektonik kuno yang telah turun ke mantel, dan dimana material mantel kuno mungkin masih berada.”

 

 

Author: adminong

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *