Bukan Cuma Manusia, Orangutan Juga Bisa “Bicara” Masa Lampau

Bukan Cuma Manusia, Orangutan Juga Bisa "Bicara" Masa Lampau

Kalengdrum – Setiap makhluk hidup mempunyai cara berkomunikasi masing-masing. Kita dapat melihat bahwa gonggongan anjing ataupun auman singa menjadi buktinya.

Namun, jika berbicara tentang komunikasi dalam konteks waktu yang telah berlalu, apakah itu hanya fitur eksklusif manusia?

Sebuah penelitian terbaru ternyata membuktikan bahwa itu tidak sepenuhnya benar. Para peneliti menemukan bahwa orangutan juga dapat berkomunikasi untuk “membicarakan” masa lampau.

BUKAN CUMA MANUSIA, ORANGUTAN JUGA BISA “BICARA” MASA LAMPAU

Bukan Cuma Manusia, Orangutan Juga Bisa "Bicara" Masa Lampau

Meski begitu, orangutan merupakan satu-satunya hewan dan primata non-manusia yang mempunyai fitur ini.

Kesimpulan ini diperoleh para peneliti setelah mengamati bahwa induk orangutan biasanya menunggu rata-rata selama 7 menit setelah pemangsa berpotensial tidak lagi terlihat untuk memperingatkan kelompoknya.

Peringatan dari induk orangutan tersebut digambarkan para ahli sebagai suara yang terdengar seperti orang sedang berciuman.

“Hasilnya cukup mengejutkan” ungkap Carel van Schaik, ahli primata dari University of Zurich yang tidak terlibat dalam studi ini dikutip dari Sciencemag, Rabu (14/11/2018).

“Kemampuan berkomunikasi tentang masa lalu dan masa depan adalah salah satu yang membuat bahasa sangatlah efektif” imbuhnya.

Van Schaik menyebutkan temuan ini dapat memberikan petunjuk tentang evolusi bahasa itu sendiri.

Temuan ini didapatkan oleh Adriano Reis e Lameira, mahasiswa pascadoktoral di University of St. Andrew Inggris. Hasil tersebut diperoleh ketika sedang mengamati peringatan bahaya yang dibuat oleh orang utan di hutan Ketambe, Sumatera.

Dia dan koleganya membuat percobaan sederhana untuk menguji peringatan bahaya yang dibuat oleh orangutan di wilayah tersebut. Mereka berkamuflase menutupi diri dengan kain dengan motif loreng seperti harimau, bertotol seperti macan atau polos.

Kemudian mereka berjalan merangkak tepat di bawah salah satu induk orang utan yang duduk di pohon dengan ketinggian 5 sampai 20 meter di atas tanah.

Para ilmuwan menunggu selama 2 menit di tempat yang sama baru menghilang dari pandangan induk orang utan tersebut.

BACA JUGA: 5 Misteri Luar Angkasa yang Belum Terpecahkan oleh Ilmu Sains

Uniknya, meski telah melihat para peneliti berselimut kain tersebut. Induk orang utan tidak langsung memperingatkan kelompoknya. Induk orangutan tersebut justru tidak bersuara sama sekali.

“Dia menghentikan apa yang dia lakukan, mengambil anaknya, berak (tanda mengalami stress) dan perlahan memanjat lebih tinggi di pohon” kata Lameira.

“Dia benar-benar tenang”, tambahnya.

Bahkan, setelah Lameira dan koleganya pergi, induk orangutan tersebut tidak langsung memberikan peringatan bahaya. Meski begitu, Lameira terus menunggu.

“Itu membuat frustasi. Dua puluh menit berlalu. Kemudian dia akhirnya membuat komunikasi dengan kelompoknya” ujar Lameira.

Namun itu bukan hanyalah sebuah peringatan.

“Dia berkomunikasi selama lebih dari satu jam” tegasnya.

Ini merupakan salah satu peringatan terlama yang diamati oleh Lameira. Dia mengamati enam induk orangutan lainnya dalam percobaan serupa.

Rata-rata, induk orangutan tersebut menunggu selama tujuh menit untuk berkomunikasi dengan kelompoknya. Lameira berpikir apa yang dilakukannya oleh induk orangutan tersebut bukan sebuah ketakutan. Itu karena mereka tidak ragu-ragu dalam setiap tindakan mereka.

Sebaliknya, Lameira justru berpikir bahwa perilaku induk orangutan tersebut adalah bentuk ketenangan agar tidak menarik perhatian.

“Sang induk melihat predator itu sebagai ancaman paling berbahaya bagi anaknya dan ia memilih untuk tidak berkomunikasi sampai bahaya hilang” kata Lameira.

Menurut Lameira, tidak segera menanggapi stimulus (dalam hal ini kamuflase harimau) adalah tanda kecerdasan.

Dia menambahkan, ini merupakan bakat yang sejalan dengan kemampuan lain yang ditemukan pada kera seperti memori jangka panjang, komunikasi yang disengaja (bukan naluri), dan kontrol yang baik terhadap otot laring. Semua itu diperkirakan mengarah pada evolusi bahasa.

Para peneliti menulis dalam laporannya di jurnal Science Advances, “Keterlambatan bersuara juga merupakan fungsi untuk melindungi orang lain (dalam hal ini anaknya) dari bahaya, yang menunjukkan kognisi tingkat tinggi”

“Temuan kami menunjukkan bahwa referensi yang digantikan dalam bahasa cenderung awalnya bertopeng perilaku serupa pada moyang manusia, hominid” imbuh mereka dikutip dari Science Alert, Jumat (16/11/2018).

Dengan kata lain, kemungkinan kemampuan kita untuk memahami dan berkomunikasi tentang masa lalu telah berevolusi dari hominid kuno yang mempunyai kaitan dengan manusia dan orangutan.

 

Author: adminong

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *