Arkeolog Kembali Menggali Situs 2.000 Tahun di NTT

Arkeolog Kembali Menggali Situs 2.000 Tahun di NTT

Kalengdrum – Beberapa tahun terakhir, para arkeolog dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional sedang menggali sebuah situs di wilayah Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur. Situs tersebut dinamai situs Lambanapu berdasarkan wilayahnya.

Situs Lambanapu sendiri diperkirakan berusia 2.000 hingga 3.000 tahun.

Salah satu arkeolog yang terlibat dalam penggalian ini adalah Retno Handini. Tahun ini, Retno kembali melakukan penggalian pada situs yang sama.

Kira-kira, apa temuan terbarunya?

“Situs Lambanapu itu pertama saya gali itu tahun 2016, sekarang tahun 2019 adalah tahun keempat. Tahun ini kami membuka enam kotak dan hasil temuan kami yang terbaru ada 18 individu,” ungkap Retno melalui sambungan telepon, Jumat (26/04/2019).

“Dari 18 individu itu, 16 diantaranya adalah orang dewasa dan dua anak-anak,” sambungnya.

Selain itu, Retno menyebut bahwa timnya juga menemukan beberapa tempayan kubur.

Tempayan kubur adalah istilah yang biasa digunakan untuk menggambarkan kubur batu atau wadah jenazah yang terbuat dari tanah liat.

  • Penemuan Terbaru

Setelah 4 tahun penggalian, Retno menyebut ada dua hal yang baru ditemukan oleh timnya. Salah satunya berupa mangkok dari perunggu yang menjadi wadah kubur.

“Yang selama ini tidak pernah ditemukan, tapi baru saja didapati adalah adanya wadah mangkok dari perunggu yang dipakai sebagai wadah kubur,” ujar arkeolog dari Pustlit Arkenas itu.

“Ini belum pernah kita temukan di tempat lain sebelumnya, dan disini juga pertama,” tambahnya.

Selain mangkok perunggu tersebut, Retno menyebut juga menemukan rangka yang kemungkinan besar adalah anjing. Tapi, keunikan dari rangka ini adalah diperkirakan anjing tersebut berukuran cukup besar.

“Kami juga menemukan rangka, kemungkinan besar ini adalah anjing dalam ukuran besar yang masih terstruktur. Sepertinya, anjing ini dikorbankan untuk sebuah ritual pemakaman yang kemungkinan ditujukan untuk kalangan pembesar (mengingat ukuran anjing tersebut sangatlah besar),” tutur Retno.

  • Bukan Hanya Situs Pemakaman

Retno menegaskan bahwa situs Lambanapu di Sumba Timur itu bukan hanya situs pemakaman saja.

“Ini sebetulnya situs pemukiman, cuma bagian yang kami gali adalah situs kuburnya. Jadi memang kebetulan kotak-kotak yang kami gali ini adalah kuburnya,” kata Retno.

“Saya yakin sekali tidak jauh dari situs kubur itu ada (situs) pemukimannya. Tapi kami belum menemukan, karena situs Lambanapu ini sangatlah luas,” sambungnya.

Retno menceritakan 500 meter dari kotak yang saat ini dia kerjakan, pada tahun 2016 sudah pernah digali.

“Jadi jarak situsnya itu lumayan besar. Kita belum bisa menggali semua, jadi baru beberapa bagian saja,” ujarnya.

Retno menambahkan, “Tapi nampaknya cukup luas dan kita belum menemukan tempat pemukimannya. Tapi kita yakin ada. Nah, ada prediksi kami lokasi pemukimannya kemungkinan di bawah rumah-rumah penduduk yang saat ini tinggal.”

Dengan kata lain, situs Lambanapu ini juga mencakup area tempat tinggal penduduk saat ini.

“Dari sanalah mereka tinggal, kemudian pada saat ada pemakaman itu ditempatkan di penguburan yang kami temukan. Sehingga, yang kami temukan itu rata-rata adalah kubur bukan tempat hunian,” Retno menceritakan tentang temuannya.

“Hampir semua yang kami temukan itu tempayan kubur dan rangka-rangka manusia,” tegasnya.

Ini berbanding terbalik ketika sebuah situs purba merupakan situs pemukiman. Jika, sebuah pemukiman, maka menurut Retno seharusnya akan ditemukan berbagai peralatan yang menunjang kehidupan.

Retno mencontohkan, jika sebuah situs pemukiman biasanya akan ditemukan bekas peralatan, kegiatan memasak, atau umpak (tiang rumah).

“Nah ini yang belum kami temukan. Tapi saya optimis sekali, mungkin di penelitian mendatang kita akan menemukan situs pemukimannya,” ujar Retno.

“Pasti tidak jauh dari lokasi kuburnya,” imbuhnya.

  • Keunikan dari Situs Pemakaman Lambanapu

Seperti yang dijelaskan oleh Retno, ketika melakukan penggalian enam kotak tahun ini, timnya menemukan sebanyak 18 kerangka. Dengan kata lain, dalam satu kota terdapat beberapa kerangka sekaligus.

Hal ini menurut Retno adalah keunikan dari situs Lambanapu sendiri.

“Ini uniknya. Ada satu bagian yang menurut kami itu seperti masterpiece dan menimbulkan tanda tanya arena ada sepasang katakanlah (kerangka) laki-laki dan perempuan.” tutur Retno.

“Perempuan ada di bagian atas, dan laki-laki dibagian bawah. Dan itu kami yakini berasal dari satu masa,” tambahnya.

Retno menyebut bahwa besar kemungkinan bahwa perempuan dan laki-laki itu meninggal bebarengan.

“Kami belum bisa memprediksi apakah perempuannya meninggal dulu atau yang laki-laki atau bagaimana… Tapi sepertinya itu dikubur bersamaan atau bebarengan waktunya kalau dilihat dari lapisan tanahnya,” Retno menjelaskan.

Tidak hanya itu, di bawah lapisan (tanah pemakaman pertama), ada kubur lain dari masa yang berbeda.

“Perbedaan lapisan tanah itu kalau di arkeologi kan satu lapisan bisa beratus tahun. Jadi, sangat mungkin dalam satu kontak itu kita menemukan beberapa kubur, beberapa rangka,” kata Retno.

“Tapi, kendalanya karena kita belum bisa mengangkat rangkanya, jadi rangka dibawahnya juga kita belum bisa nampakan seluruhnya. Paling hanya beberapa bagian tertentu saja,” sambungnya.

Lapisan-lapisan ini menjadi keunikan dari bentuk pemakaman di situs Lambanapu. Bahkan, peralatan pemakamannya pun memiliki lapisan tersendiri.

“Ada semacam lapisan-lapisan (tanah). Bahkan tempayan kubur pun kami menemukan itu sampai tiga tumpuk,” kata Retno.

Itu sementara kami namakan tempayan kubur karena sangat mungkin jika tempayan itu dibuka sebagai kubur sekunder. Mungkin ya, tapi kami belum membukanya,” tegasnya.

Retno menyebut pihaknya memang berencana membuka tempayan kubur yang ditemukan. Tapi hal ini juga masih mempunyai beberapa pertimbangan khusus.

“Pasti kita berencana membukanya, tapi ada kamungkinan tempayan ini sebagai wadah kubur atau kubur sekunder. Ada beberapa yang sudah terbukti dengan peti di Melolo itu, kami menemukan tempayan yang setengah terbuka dan didalamnya ada rangka,” Retno mengisahkan.

“Itu artinya adalah tempayan tersebut dipakai sebagai kubur. Di mangkok itu juga begitu, di dalamnya ada kubur anak-anak,” tambahnya.

Dengan kata lain, mangkok perunggu yang baru ditemukan tahun ini juga sebagai wadah kubur.

“Tapi yang baru kami temukan disini tempayan-tempayannya masih utuh. Kami belum berani untuk membuka karena rasanya ini memerlukan persiapan yang lebih matang dahulu,” kata Retno penuh pertimbangan.

“Karena kalau kita membuka berarti kita merusak. Jadi, kita mau testing dulu, membuat cetakannya dulu baru kami berani untuk mengangkat. Jadi harus sangat hati-hati prosesnua,” dia menambahkan.

 

Author: adminong

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *