Tidak Selamanya Lulusan Kelistrikan Harus Panjat Tiang Listrik

Tidak Selamanya Lulusan Kelistrikan Harus Panjat Tiang Listrik

Tidak Selamanya Lulusan Kelistrikan Harus Panjat Tiang Listrik – Rendahnya minat masyarakat Indonesia menekuni ilmu kelistrikan sebab sejumlah hal. Salah satunya terkait prospek pekerjaan setelah lulus.

Mengacu data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, jumlah siswa sekolah menengah kejuruan (SMK) jurusan kelistrikan se-Indonesia pada tahun 2017, sebanyak 991 orang.

Angka itu kalah jauh dibandingkan misalnya, jurusan otomotif dengan 4.001 orang atau bahkan jurusan teknik komputer dan informatika sebanyak 5.522 orang.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Ahmad Dahlan mengatakan, sejatinya lulusan kelistrikan tidak selalu bekerja dengan memanjat tiang listrik.

“Ini pandangan keliru sehingga membuat masyarakat kurang tertarik untuk belajar kelistrikan, terlebih lagi untuk kaum perempuan,” ucap Ahmad dalam wawancara terbatas dengan media di sela-sela Innovation Summit 2018, di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Padahal, lulusan kelistrikan bisa bekerja untuk sejumlah hal, misalnya sebagai analis kebutuhan listrik. Selain, pandangan di atas, kata Ahmad, rendahnya minat masyarakat Indonesia belajar kelistrikan karena pelajaran itu dipandang sulit, abstrak, bahkan menakutkan.

“Lulusan sekolah menengah pertama (SMP) juga tidak sepunuhnya paham jurusan-jurusan di SMK sehingga cenderung memilih (jurusan) berdasarkan popularitas,” ucapnya.

Adapun jurusan favorit di SMK antar lain teknik mesin, teknik komputer dan otomotif. Lebih lanjut Ahmad mengatakan, selama ini industri pun tidak terlalu peduli dengan latar belakang pendidikan calon karyawannya, apakah lulusan sekolah menengah atas (SMA) atau SMK.

Kondisi itu semakin membuat pendidikan spesifik, seperti ilmu kelistrikan, tak diminati masyarakat.

Strategi khusus

Terkait fakta masih kurang diminatinya sekolah jurusan kelistrikan, pemerintah mulai merancang sejumlah strategi. Menurut Ahmad, Presiden Joko Widodo telah mengeluarkan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 9 Tahun 2016 tentang Revitalisasi SMK.

Dengan Inpres tersebut, diharapkan koordinasi antarkementerian dan pemerinyah daerah lebih baik dalam memperbaiki kualitas pendidikan SMK.

Sasaran utama dari revitalisasi SMK, tambah Ahmad, adalah menyelaraskan kurikulum SMK dengan kompetensi yang dibutuhkan industri (link and match), termasuk sektor kelistrikan.

“Kami pun terus melaksanakan sertifikasi kompetensi keahlian kepada guru-guru SMK,” sambung Ahmad.

Dalam forum yang sama, Direktur Sumber Daya Manusia Schneider Electric Indonesia Indah Prihardini mengatakan, terbatasnya lulusan kelistrikan menjadi tantangan tersendiri bagi sektor swasta.

Padahal, ucapnya, teknologi digital semakin menggeliat dan tentunya membutuhkan lulusan berteknik khusus, seperti bidang kelistrikan. Salah satu indikator yang bisa dipakai mengukur derasnya digitalisasi adalah kebutuhan akan data.

Mengacu riset Internasional Energy Agency, kebutuhan data pada 1987 hanya sebesar 2 terrabyte, kemudian terus berkembang hingga menjadi 1,1 zetabyte pada 2017.

Menyadari tantangan minimnya sumber daya manusia bidang kelistrikan, lanjut Dini, pihaknya berupaya membantu pemerintah dalam meningkatkan jumlah lulusan bidang tersebut.

Dini menuturkan, pihak perusahaannya telah bekerja sama dengan pemerintah Indonesia serta Perancis dalam mendukung vokasi bidang kelistrikan.

Hingga saat ini, Schneider Electric telah memiliki sedikitnya 184 lab vokasi dan ditargetkan beberapa tahun ke depan bisa melahirkan 10.000 tenaga kerja kelistrikan siap pakai.

“Dengan langkah tersebut, kami berharap ke depannya akan semakin banyak tenaga terampil bidang kelistrikan di Tanah Air,” pungkas dini.

Author: drum

Mimpimu tidak mempunyai tanggal kadaluarsa. Ambil nafas dalam dalam dan coba lagi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *