Pembajakan Software di Indonesia Lebih Buruk dari China

Pembajakan Software di Indonesia Lebih Buruk dari ChinaBusiness Software Alliance menilai pembajakan di Indonesia hanya turun 1%. Yaitu 84% ke 83% karena penegakan hukum yang minim terhadap hak cipta.

“Hukum di Indonesia sudah ada, hanya saja penegakannya yang masih kurang,” jelas Tarun Sawney, Senior Director, Business Software Alliance. Organisasi yang megkampanyekan penggunaan peranti asli, saat ditemui di kantor Microsoft di Singapuran.

Pengurusan dan pengaturan soal hak cipta di Indonesia ditangani oleh Direktorat Jenderal HAKI Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia. Namun. BSA menilai belum ada perangkat hukum khusus yang ditujukan untuk menindak pelaku pelanggar aturan tersebut.

Angka penurunan penggunaan software bajakan di Indonesia bahkan lebih buruk dari rata-rata Asia Pasifik yang turun 4% ke angka 57% dari 61% pada 2015.

Hal ini terungkap dari survey yang dilakukan BSA terhadap survey BSA 2017 Global Software Survey yang dilakukan bersama IDC.

Pembajakan Software di Indonesia Lebih Buruk dari China

Survey dilakukan di 110 negara dengan lebih dari 22.500 responden pengguna PC dan 2.300 pembuatan kebijakan di bidang TI.

Pembajakan Software di Indonesia Lebih Buruk dari China

Pengadilan Hak Cipta
Sawney lantas membandingkannya dengan beberapa negara tetangga seperti China, Thailand dan Vietnam. Ketiga negara ini sudah memiliki pengadilan hak cipta sehingga mengurangi tingkat pembajakan.

Baca Juga : Google Menawarkan Season Pass di Play Store, Apa itu?

Dia menuturkan China menjadi negara dengan penurunan pembajakan tertinggi dalam 15 tahun terakhir. Negara itu berhasil menurunkan 26% tingkat pembajakan di negara mereka.

Pembajakan yang dimaksud menurut Sawney tidak terbatas pada kasus pembajakan dari software perusahaan multinasional semata.

Dalam kasus China, seringkali kasus pembajakan dan pelanggaran hak cipta yang terjadi adalah antar sesama perusahaan China sendiri.

Baca Juga : Teknologi Cloud Merambah Industri Manufaktur, Mendorong Revolusi Industri 4.0

“China mulai berkembang dari negara yang meniru menjadi negara yang menciptakan sendiri. Terutama dengan makin berkembangnya startup di negara itu,” jelas Jared Ragland, Senior Director, Policy, Asia Pacific ditemui dalam kesempatan yang sama.

Hal serupa nampak di Vietnam. Negara ini juga menempati persentase pengurangan pembajakan tertinggi kedua dari negara asal Asia Pasifik lainnya. Dengan 18% dalam 15 tahun terakhir.

Setelah Vietnam, terdapat India (17%), Singapura (16%), dan Korea Selatan (16%). Yang menjadi lima besar negara dengan persentase pengurangan pembajakan tertinggi.

Lebih lanjut Raglan menekankan pentingnya pengadilan hak cipta di negara-negara dengan pembajakan software yang tinggi. Sebab menurutnya, hak cipta aplikasi poker perlu penindakan dan pengetahuan tersendiri.

“Pengadilan biasa seringkali tidak dilengkapi dengan pengetahuan dan prioritas atas bidang ini.” tambahnya.

Selain pengadilan, baik Sawney dan Raglan juga menegaskan perlunya polisi yang juga khusus menangani masalah hak cipta ini.

Meski keduanya mengakui bahwa Indonesia sudah memiliki Bareskrim, Cyber Polri. Namun penindakan yang lebih agresif perlu membentuk bagian tersendiri yang dilakukan China dan Vietnam.

Author: admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *