Membasmi Terorisme dengan Teknologi Data

Membasmi Terorisme dengan Teknologi Data

Kalengdrum –  Di dunia yang serba canggih dan saling tersambung satu sama lain. Sering kali teknologi disalahgunakan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab untuk melakukan tindak kejahatan.

Salah satunya adalah para teroris. Mereka kerap menggunakan media sosial untuk menyebarkan paham. Merekrut anggota, saling berkomunikasi satu sama lain hingga melancarkan serangan dan menyebarkan rasa takut ke seluruh dunia dalam waktu yang cepat.

Namun kita tidak perlu khawatir. Karena di sisi lain, sebenarnya teknologi seperti big data atau data science bisa menjadi senjata yang ampuh untuk memberantas terorisme.

Seperti diberitakan oleh Algorit.ma, data science bisa membantu pihak yang berwenang untuk memantau tindakan para terduga teroris. Data yang dikumpulkan melalui jejak digital di media sosial dan dunia internet dapat mengungkap latar belakang serta motivasi serta pergerakan mereka. Bahkan data tersebut juga bisa membantu para penegak hukum untuk mengungkap jaringan terorisme.

Membasmi Terorisme dengan Teknologi Data

Oleh karena itu, menuru Samuel Chan, Course Producer dan Co-Founder dari Algoritma Data Science Education Center. Tindakan pemberantasan terorisme harus mulai melibatkan sektor publik dan swasta sebagai ahli dalam bidang data science.

“Apabila kita amati saat ini, mulai banyak perusahaan swasta yang bekerja untuk membangun lingkungan yang lebih aman. Lingkungan yang terhindar dari aksi terorisme, hate speech, illegal trafficking dan lain sebagainya,” tutur Samuel dalam berita yang disampaikan Algorit.ma kepada Rappler Senin, 21 Mei kemarin.

Membasmi Terorisme dengan Teknologi Data

Salah satu perusahaan swasta raksasa yang mulai ikut serta dalam upaya peningkatan keamanan adalah Facebook. Saat ini mereka sedang mengembangkan teknologi analisis teks untuk mendeteksi kata-kata dalam media sosial tersebut yang sekiranya terindikasi mengandung unsur propaganda terorisme.

Tak hanya teknologi analisis teks, teknologi-teknologi canggih lainnya seperti image recognition, computer vision dan biometrics mining juga bisa digunakan untuk menganalisa pergerakan digital para terduga teroris ini.

“Ada banyak hal yang dapat dilakukan negara untuk mendukung upaya ini. Diantaranya melalui pembiayaan atau kampanye yang terorganisir. Namun yang paling penting, negara perlu membuka diri terhadap inovasi-inovasi tersebut,” katanya.

Saat ini Indonesia sudah memulai upaya pemanfaatkan teknologi untuk meningkatkan keamanan negara. Salah satunya adalah melalui platform AduanKonten.id yang digalakkan oleh Menkominfo. Dalam situs ini, siapapun bisa melaporkan konten digital yang bersifat negatif, mengandung kebohongan atau hoaks, sampai yang mengandung unsur dugaan terorisme.

Sudah dijalankan oleh beberapa negara

Di beberapa negara, penggunaan data science untuk operasi inteljen dan menanggulangi aksi terorisme sudah kerap dilakukan. Salah satunya adalah kajian dari Binghamton University, State University of New York yang menggunakan kerangka kerja Networked Pattern Recognition (NEPAR) untuk memahami perilaku para terduga teroris. Bahkan mereka mengklaim bahwa big data bisa memprediksi serangan teroris dengan akurasi lebih dari 90%.

Ada pula penelitian yang dilakukan oleh Qatar Computing Research Institute di Doha pada tahun 2015. Setelah menganalisis 3 juta tweet yang diposting oleh para pendukung ISIS, mereka berhasil menciptakan algoritma yang bisa mengelompokkan para pengguna Twitter sebagai anti atau pro ISIS. Bahkan mereka mengklaim bahwa algoritma ini memiliki tingkat akurasi sebesar 87%.

Membasmi Terorisme dengan Teknologi Data

Tanpa privasi?

Kekhawatiran tentang penggunaan data science sebagai informasi berkaitan dengan informasi masyarakat. Adanya keleluasan untuk mengawasi konten masyarakat bisa jadi disalahgunakan. Namun Samuel merasa bahwa masalah ini bisa diatasi dengan adanya regulasi yang ketat.

“Saya pribadi mendukung adanya regulasi untuk hal ini, apalagi jika regulasi tersebut dapat membantu kita untuk menciptakan lingkungan yang bersih dari hate speech maupun propaganda. Kuncinya adalah, regulasi harus diaplikasikan secara adil dan tanpa diskriminasi,” katanya.

 

Author: admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *