Dalam Urusan Seks, Jangkrik Betina Suka Pejantan Lebih Tua

Dalam Urusan Seks, Jangkrik Betina Suka Pejantan Lebih Tua

Dalam Urusan Seks, Jangkrik Betina Suka Pejantan Lebih Tua – Pernahkah anda mendengar ungkapan tua-tua keladi, makin tua makin jadi? Ternyata, ungkapan tersebut juga berlaku di dunia hewan, khususnya jangkrik, menurut temuan tebaru.

Melalui penelitian yang dilakukan oleh University of Exeter terhadap jangkrik liar. Diketahui bahwa betina cenderung lebih tertarik pada pejantan tua dibandingkan dengan yang muda. Meski demikian, terdapat keseimbangan di antara keduanya dalam aspek lain.

Pejantan tua mudah mencari pasangan, tapi frekuensi kawin mereka lebih sedikit. Sebaliknya, meski pejantan muda perlu berusaha ekstra untuk mendapatkan perhatian betina, tapi mereka banyak kawin setelah memiliki pasangan.

Baca juga: Populasi Serangga Dunia Menurun Dan Ini Dampaknya Pada Hewan Lain

“Jangkrik betina memilih pasangan demi mendapat gen terbaik bagi keturunannya,” ujar Dr. Rolando Rodriguez-Munoz, peneliti dari Centre for Ecology and Conservation, University of Exeter.

Munoz menjelaskan bahwa pejantan tua dianggap lebih menarik karena memiliki gen yang unggul, di tandai lewat usianya yang panjang.

Di sisi lain, beberapa betina justur lebih tertarik pada jantan muda, mungkin karena sperma mereka masih berkualitas baik dan belum mengakumulasikan mutasi berbahaya yang dapat diturunkan pada keturunannya.

“Hasil ini memberikan petunjuk yang beragam, dengan kesimpulan bahwa jantan tua lebih sukses mendapatkan pasangan, tapi setelahnya justru jarang terjadi kawin,” lanjutnya.

Baca juga: Studi Ungkap Kanibalisme Pada Hewan Menguntungkan Jangka Panjang

Penelitian ini menemukan bahwa pemilihan pasangan dan frekuensi kawin, yang merupakan indikator kesuksesan reproduksi, tidak sepenuhnya berkaitan dengan usia pejantan dan jumlah keturunan yang telah dihasilkan sebelumnya.

“Nampaknya, umur pejantan merupakan petunjuk yang kurang baik untuk pemilihan pasangan. Pasalnya, usia ini memiliki efek yang bertolak belakang dalam aspek pemilihan pasangan dan jumlah kawin,” papar Profesor Tom Tregenza, peneliti lain yang juga terlibat dalam studi ini, seperti dilansir dari Science Daily.

Pemilihan pejantan tua tampak seperti strategi yang baik untuk mencari pasangan yang memiliki gen unggul untuk hidup lebih lama, tapi kondisi ini memiliki konsekuensi bahwa jumlah keturunannya lebih sedikit, sejalan dengan frekuensi kawin yang juga rendah.

Author: drum

Mimpimu tidak mempunyai tanggal kadaluarsa. Ambil nafas dalam dalam dan coba lagi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *