Bagaimana Cara Kerja Otak Mengingat Nomor Telepon?

Bagaimana Cara Kerja Otak Mengingat Nomor Telepon?

Bagaimana Cara Kerja Otak Mengingat Nomor Telepon? – Bayangkan apabila anda dalam keadaan mendesak, harus menghubungi seseorang. Namun apa daya handphone lemah, anda hanya memiliki sedikit waktu untuk mengingat nomor teleponnya.

Saat seperti ini, hal yang paling dibutuhkan otak adalah memori kerja atau working memory. Ini merupakan sistem otak yang sangat bisa diandalkan untuk mengingat informasi terpenting untuk sementara.

Menurut Neurolog atau ahli saraf Earl Miller dari MIT Picower Institute for Learning and Memory dan Christos Constantinidis di Wake Forest School of Medicine. Memori kerja merupakan isi pikiran kita dan komponen inti dari fungsi kognitif yang berperan dalam perencanaan, bahasa dan kecerdasan.

Keduanya sepakat bahwa memori kerja sangatlah penting untuk semua hal yang dilakukan oleh otak. Seseorang yang memiliki masalah pada memori kerja sangat mungkin mengalami gangguan otak seperti autisme atau skizofrenia.

Meski begitu, tentang bagaimana memori kerja melakukan tugasnya masih diperdebatkan oleh para ahli, terutama Miller dan Constantinidis.

BAGAIMANA CARA KERJA OTAK MENGINGAT NOMOR TELEPON?

 

 

Bagaimana Cara Kerja Otak Mengingat Nomor Telepon?

Pro Kontra Para Ahli

Dilansir NPR, Minggu (4/11/2018), keduanya menyajikan bukti yang dapat menguatkan hipotesis masing-masing ke dalam pertemuan Society for Neuroscience di San Diego pekan lalu.

Constantinidis mendukung apa yang disebut model memori kerja standar, model yang telah ada selama beberapa dekade.

Ia mengatakan, saat kita ingin menyimpan informasi baru dan penting seperti nomor telepon, neuron di bagian depan otak akan terus menembah dan bekerja sangat aktif.

“Dan ini adalah aktivitas yang terus menerus dari neuron di korteks prefrontal yang memungkinkan anda untuk mempertahankan informasi dalam memori” kata Constantinidis.

Apabila Neuron berhenti bekerja, maka informasi tersebut dapat hilang sepenuhnya.

Namun, gagasan ini langsung dibantah oleh Miller. Ia berkata bahwa memori kerja tidak sesederhana itu.

Tim Miller menggunakan teknologi terbaru untuk mempelajari kelompok neuron dalam memori kerja. Mereka menemukan, tembakan yang dilakukan neuyron tidak dilakukan secara terus menerus. namun hanya singkat dan terkoordinasi.

“Ini mungkin terdengar biasa saja, tapi implikasi fungsionalnya sangatlah besar” tegas Miller.

Salah satu implikasinya, otak harus memiliki banyak cara untuk mempertahankan informasi dalam memori kerja selam aktivitas neuron bekerja aktif.

Hipotesis Miller, neuron dalam memori kerja berkomunikasi dengan bagian otak yang lain, termasuk jaringan yang terlibat dalam memori jangka panjang.

Memori kerja melakukan komunikasi itu dengan menembakkan neuron bersama-sama pada frekuensi tertentu, yang meninggalkan “kesan” sementara dan informasi dalam jaringan luas sel-sel otak.

Model Miller akan memungkinkan informasi dari memori yang bekerja untuk disimpan dalam bentuk laten, seperti memori jangka panjang disimpan. Dan itu dapat menjelaskan bagaimana kita bisa mengingat nomor telepon.

“Jika anda menjatuhkan kopi saat sedang menelpon, aktivitas di otak akan beralih ke kopi yang jatuh. Dan karena ingatan ini disimpan dalam bentuk laten, mereka dapat diaktifkan kembali” terangnya.

Jika memori kerja benar-benar berinteraksi dengan bagian lain otak. Itu bisa menjelaskan bagaimana area yang terlibat dalam perencanaan dan pengambilan keputusan dapat mengotrol informasi apa yang tetap dalam memori kerja dan apa yang dihapus.

BACA JUGA: Bukan Cuma Manusia, Orangutan Juga Bisa “Bicara” Masa Lampau

“Ini membuka teka-teki paling sulit. Namun pertanyaan yang paling menarik mengenai memori kerja adalah bagaimana caranya kita mengendalikan pikiran kita sendiri?” tanya Miller.

Constantinidis mengakui, model memori kerja yang dikembangkan Miller sangat menarik dengan dasar teoritis sekaligus dapat menjelaskan beberapa hal sulit dijelaskan model standar.

“Masalahnya, sejauh ini belum ada bukti eksperimental yang menghubungkan variable kritis dengan perilaku manusia” kata Constantinidis.

Constantinidis memberikan contoh, percobaan laboratorium menunjukkan bahwa jumlah penembakan berirama yang terjadi tampaknya tidak banyak berpengaruh pada kinerja memori yang bekerja.

Juga pendapat Miller bahwa memori kerja terkait dengan memori jangka panjang tampaknya bertentangan dengan pengalaman dokter dengan pasien yang otaknya telah terluka, Constantinidis mengatakan.

“Kami memiliki kasus klinis pasien untuk siapa memori kerja sangat terganggu dan memori jangka panjang mereka masih utuh” katanya.

Jadi untuk saat ini, Constantinidis tetap teguh pada pendiriannya dengan model standar. Namun, dia tetap menerima pandangan yang sampaikan Miller.

“Sebagai ilmuwan itulah yang kami lakukan,” katanya. “Kami mencoba menggali sebuah masalah dengan beragam teori dan itu sangatlah menyenangkan.” imbuhnya.

Meski belum jelas bagaimana memori kerja melakukan tugasnya, semakin banyak eksperimen yang dilakukan para ahli saraf akan semakin menunjukkan kebenarannya.

 

Author: adminong

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *