Apakah Google Membuat Otak Manusia Menjadi Bodoh?

Apakah Google Membuat Otak Manusia Menjadi Bodoh?

Apakah Google Membuat Otak Manusia Menjadi Bodoh? – Kemunculan Google di dunia teknologi memang bisa dibilang sebagai “penyelamat” manusia dalam kehidupan sehari-hari.

Mesin pencari Google, sudah terbukti dapat membantu dan mengolah pola manusia dalam mengakses dan mencari berbagai informasi. Dari yang tadinya tidak tahu apa-apa, jadi tahu. Dari yang tadinya salah kaprah, jadi mengerti dan paham.

Akan tetapi tidak jarang, ketidakseimbangan informasi yang menjejali linimasa query hasil pencarian dianggap sebagai hantu. Akibatnya, Google juga disalahkan sebagai salah satu penyebab misinformasi terbesar.

Lantas, terlepas dari perannya dalam membantu manusia, apakah Google bisa dibilang membuat otak manusia menjadi lebih bodoh? Bodoh, dalam arti disini adalah malas atau mungkin kurang cermat membedakan informasi yang benar?

Apakah Google Membuat Otak Manusia Menjadi Bodoh?

Belum lama ini. media DW sempat diwawancarai oleh Dean Burnett, seorang penulis dan juga ahli syaraf. Apakah Google menjadi penyebab otak manusia menjadi lebih malas dan bodoh. Mari kita simak wawancaranya berikut ini:

DW: Apakah Google telah membuat orang menjadi bodoh selama bertahun-tahun?

Dean Burnett: Tidak, saya tidak melihat hal seperti ini terjadi. Argumen utama yang saya lihat mendukung pendapat ini adalah kita biasanya dapat mengingat puisi ataupun jawaban yang panjang lalu menghafalkannya dengan mudah. Karena inilah yang diajarkan oleh pihak sekolah.

Namun kemampuan untuk mengingat tulisan panjang bukanlah sebuah tanda kecerdasan. Apabila tidak mampu melakukannya tidak berarti anda “bodoh”. Intelegensi juga mempunyai banyak sekali faktor budaya dan genetik juga banyak waktu bermuara pada bagaimana anda menggunakan informasi, tidak seberapa baik anda mengingatnya.

Google memberikan kita lebih banyak informasi dari sebelumnya. Jadi muncul argumen, justru membuat kita lebih cerdas, memberitahukan kita lebih banyak informasi dan membuat otak kita bekerja dalam memprosesnya.

Bagaimana Otak Manusia mengatasi gempuran informasi yang tersedia di Google ini?

Kebanyakan manusia memang tidak benar-benar menghargai betapa bagusnya otak kita dalam menyaring informasi dari rentetan hal-hal kuat. Indra kita sendiri memberikan lebih banyak informasi ke otak daripada yang pernah kita harapkan untuk diproses setiap menit demi menit dan otak telah mengembangkan banyak sekali mekanisme untuk menyerang, menangani dan memprioritaskan segala hal ini.

Hal yang sama juga dapat dikatakan tentang informasi Google. Tetapi hal tersebut sedikit berbeda karena lebih abstrak dan bersifat kognitif. Sayangnya, metode otak untuk mengatasi surplus informasi tidak selalu ideal.

Konfirmasi misalnya, proses dimana kita lebih memprioritaskan informasi mengenai dukungan apa yang sudah kita pikirkan/percayai dan abaikan apapun yang tidak. Proses ini meresap, bertahan dan jelas mendukun sebagian besar kesulitan dan polarisasi yang kita lihat secara online, khususnya di bidang politik.

Apakah manusia menjadi lebih bergantung pada Google dibandingkan otak mereka sendiri?

Saya dapat melihat bagaimana ini bisa menjadi sebuah masalah. Manusia mungkin akan cenderung langsung bertanya pada Google daripada mencoba mencari jawabannya sendiri. Tapi itu jelas akan bervariasi dari orang ke orang. Akan tetapi, pemrosesan informasi ini hanyalah sebagian kecil dari apa yang dilakukan otak kita. Jadi akan sulit untuk melihat bagaimana Google lebih diutamakan daripada otak dalam waktu dekat.

 

Author: adminong

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *