7 Developer Game Kesayangan Gamers Ini Dirusak Oleh Publisher

7 Developer Game Kesayangan Gamers Ini Dirusak Oleh Publisher

7 Developer Game Kesayangan Gamers Ini Dirusak Oleh Publisher – Developer seperti Rockstar, Naughty Dog dan Insomniac Games memiliki reputasi yang sangat besar dengan konsistensi game berkualitas tinggi. Ini membuat mereka berada di posisi yang paling sangat aman dan agak tidak mungkin ditutup atau ‘dimusnahkan’ oleh perusahaan induk yang menaungi mereka.

Namun, tidak semua developer seberuntung itu. Faktanya, dalam beberapa tahun terakhir, telah banyak developer yang hancur karena campur tangan publisher yang tidak diperlukan. Banyak di antaranya bahkan telah tutup dan meninggalkan sejumlah franchise luar biasa yang juga ikut mati. Berikut ini 7 developer game yang dirusak oleh publisher lainnya, simak di bawah ini.

1. Visceral Games

Sebelum ‘dibunuh’ oleh EA, sedari awal Visceral memang tidak pernah terlihat begitu cocok dengan publisher yang berbasis di California itu. Judul ketiga dari Dead Space bahkan hanya terjual sebanyak 5 juta copy, karena tekanan EA untuk membuat gamenya. Terlalu banyak permintaan yang di inginkan.

Harus memiliki microtransaction dan mode co-op yang sesungguhnya tidak diperlukan. Hal agak terlihat membaik ketika Amy Hennig bergabung dengan Visceral untuk mengembangkan game Star Wars baru, namuan secara tak terduga, EA membatalkan game itu dan mematikan Visceral bersamanya.

2. High Moon Studios

High Moon menjadi salah satu korban dari pendekatan kejam Activision. Yang menutup mereka pada tahun 2013 dengan memberhentikan 40 karyawan sekaligus. Alih-alih memimpin pengembangan game sendiri. Activision malah menugaskan High Moon untuk memberikan dukungan kepada Call of Duty dan Destiny.

Padahal, High Moon memiliki track record yang cukup bagus ketika membuat game sendiri. Sebut saja franchise Transformers ‘Cybertron’ yang fantastis dan Deadpool (2013) dan tampil cukup baik, yang sayangnya menjadi game terakhir yang mereka rilis. Sungguh miris publisher sekarang, tidak memberi ampun.

3. LucasArts

Pada masanya, LucasArts merupakan salah satu developer paling dikagumi di industri, dengan keberhasilan berbagai game mereka seperti Star Wars: The Old Republic, Monkey Islands dan Grim Fandango. Sayangnya, setelah akuisisi yang dilakukan oleh Disney terhadap Lucasfilm pada tahun 2012, ‘nyawa’ LucasArts mulai terancam.

Baca juga: 4 Game Online Keren Ini Sekarang Kurang Diminati, Kenapa Ya?

Selain karena penanganan lisensi Star Wars terhadapa video game yang sangat buruk, Disney secara tidak langsung memusnahkan LucasArts. Ini terjadi setelah mereka memutuskan untuk mengoper lisensi Star Wars ke tangan EA, yang hingga kini belum merilis game single-player apapun dari semestar Star Wars. Sungguh miris.

4. Pandemic Studios

Pandemic Studios hampir sepenuhnya merajai industri video game pada pertengahan tahun 2000-an dengan serangkaian game fantastis seperti Star Wars: Battlefront dan Mercenaries. Sebelum akhirnya jatuh dan hancur pasca dibeli oleh EA. Alasan cukup sederhana yaitu karena Pandemic selalu gagal memenuhi permintaan.

Tinggi dan tidak masuk akan EA, yang selalu menginginkan game dengan kesuksesan besar. Alhasil, kegagalan Lord of The Rings: Conquest dan The Saboteur yang sama-sama rilis pada tahun 2009, dengan mudah mengantarkan Pandemic kedalam ‘jurang kematian EA’. Tidak selamanya kita bisa selalu diatas pasti ada kalanya dibawah.

5. Bungie

Bungie dikenal dengan franchise Halo-nya yang fenomenal dan menjadi franchise yang mengantarkan Microsoft ke dalam industri video game (khususnya di bidang game), sekitar 18 tahun yang lalu. Namun, kesepakatan yang mereka buat dengan Activision pada tahun 2010, menjadi awal dari menurunnya kualitas mereka.

Baca juga: Jangan Pernah Keluar Tiba-Tiba Dari Game Ini, Ada Sanksi Beratnya

Benar memang jika Bungie sempat sukses dengan franchise Destiny-nya, namun setelah itu, tidak ada sesuatu yang semenarik atau semeriah ketika mereka masih menangani Halo. Dengan berakhirnya kemitraan dengan Activision pada Januari kemarin, diharapkan Bungie bisa kembali ke kualitas terbaiknya.

6. Hangar 13

Berdasarkan informasi yang dihimpun dari jurnalis Kotaku, Jason Schreier, masa-masa setelah perilisan Mafia III menjadi masa terburuk bagi Hangar 13. Kendati mereka telah mendirikan kantor baru di Brighton, banyak dari karyawannya yang sebelumnya ikut ambil bagian di Mafia III, pergi atau dipindahkan oleh 2K selaku publisher.

Beberapa judul menjanjikan seperti game spionase yang berlatar di Berlin, juga dilaporkan ditangguhkan oleh 2K untuk alasan yang tidak diketahui. Selain itu, 2K tampaknya juga menjadi yang bertanggung jawab atas buruknya kualitas Mafia III, setelah mereka menolak penundaan perilisan game bergenre open-world itu.

7. Bioware

Penurunan kualitas Bioware mungkin menjadi tragedi industri video game paling menyakitkan saat ini. Bioware dulunya merupakan developer game RPG yang sangat hebat, yang goyah pasca perilisan Mass Effect 3. Keputusan EA untuk mengadopsi game engine mereka yaitu Frostbite ke dalam sejumlah game Bioware.

Menjadi salah satu alasan mengapa kualitas developer asal Kanada itu menurun. Tekanan dari EA menghambat setiap visi dan ambisi Bioware di setiap langkah. Tidak dapat disangkal bahwa ketidakinginan EA terhadap game single-player dan pemaksaan game-engine, merusak nama besar Bioware.

Author: drum

Mimpimu tidak mempunyai tanggal kadaluarsa. Ambil nafas dalam dalam dan coba lagi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *